Apa yang paling ditakuti pasukan Belanda dari laskar Jawa? Mayor Francois Ridder De Stuers, ajudan sekaligus menantu Jenderal Hendrik Merkus De Kock sang Panglima Perang Jawa mencatat dalam memoarnya; tombak.
“Mereka menyerang kavaleri kita dengan tombak-tombak panjangnya. Gerakan mereka begitu mantap dan tertata. Tombaknya dihantamkan ke leher kuda para perwira kita sehingga hewan itu terkejut. Ketika kudanya berjingkrak mengangkat kaki dan penunggangnya kehilangan kendali, dada mereka jadi sasaran empuk hunjaman tombak itu. Saat telah terjadi fase pertempuran jarak dekat, orang-orang Jawa itu menundukkan kepala, bergerak seperti kesetanan, dan dari mulut mereka terdengar pekik nyaring yang mengerikan. Mereka meneriakkan kebesaran Sesembahan mereka dengan suara mengiris hati.”
Dalam Perang Diponegoro, rakyat turut serta dalam pertempuran dengan keris mereka, tapi dalam fungsi sebagai tombak dengan diberi galah bambu atau kayu sebagai landeyannya.
“Sementara itu rakyat desa-desa, para petani miskin, turut serta dalam melawan kita dengan keris-keris mereka. Senjata sehari-hari itu diikat di ujung bambu atau galah kayu, lalu mereka bergabung menyerang gerak mundur pasukan kita yang biasanya sudah dalam keadaan kacau.
Dengan tombak-keris itu mereka menjatuhkan para kavaleri kita dari kuda sebelum sempat mengisi ulang bedilnya, lalu mereka membantainya ramai-ramai. Begitu selesai, mereka langsung melepas keris dari gagangnya, menyarungkan dan menyembunyikannya di balik baju dan celana, dan kembali turun ke kebun atau sawah sebagai petani biasa seolah tak terjadi apa-apa.”
Tombak juga merupakan senjata yang dikenal hampir di seluruh dunia. Berbagai kebudayaan di semua benua mengenal tombak sebagai senjata yang efektif di dalam pertempuran. Persebaran tombak di seluruh Nusantara juga relatif merata, bahkan di daerah yang tidak mengenal keris. Tangguhnya sangat luas, tak hanya meliputi kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa ataupun Alam Melayu.
Maka kalau kita memiliki tombak sebagai mahakarya tosan aji dengan besi dan pamor, dengan aneka dhapur, dengan berbagai ricikan disertai seluruh filosofi dan sejarahnya, tentunya ia merupakan sebuah kebanggaan bahkan terhadap seluruh dunia.
Jadi, buat para pemula seperti kami; selain keris, tombak adalah pilihan koleksi yang masuk di akal dan masuk di kantong.
Ilustrasi: Tombak Kyahi S., tangguh Nem-neman. Dhapur apa ya kiranya?




