Wisdoms.id Jakarta—Dalam sebuah diskusi publik internal yang berlangsung di Kota Bekasi baru-baru ini, Aji Amdani, praktisi dan Master Silat dari Pencak Silat Pagar Nusa, mengangkat pandangan mendalam tentang pentingnya pencak silat sebagai identitas bangsa sekaligus solusi kultural terhadap fenomena sosial seperti demonstrasi hingga potensi anarkisme. (4/9/25)
Ketika ditanya tentang korelasi antara silat sebagai identitas bangsa dengan berbagai gejolak sosial yang kerap terjadi di ruang publik, Aji Amdani menyampaikan bahwa pencak silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan sistem nilai yang membentuk karakter individu dan masyarakat.
“Silat bukan ajaran kekerasan, tetapi penguatan jiwa. Ia membentuk manusia yang mampu mengendalikan emosi, menjunjung tinggi etika, dan bertindak untuk membela kebenaran, bukan melampiaskan kemarahan,” ujar Aji Amdani dalam forum tersebut.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan solidaritas sosial yang diajarkan dalam pencak silat sejatinya menjadi benteng moral untuk mencegah lahirnya tindakan-tindakan anarkis yang merusak tatanan kehidupan berbangsa. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa seruan menahan diri tidak boleh hanya diarahkan pada masyarakat atau demonstran, melainkan juga kepada pejabat publik dan aparat bersenjata.
“Kalau yang disalahkan selalu rakyat, sementara pejabat dan aparat tidak pernah mau bercermin, itu namanya tidak adil. Silat justru mengajarkan keseimbangan: keberanian melawan kezaliman sekaligus kemampuan menahan diri dari kesewenang-wenangan,” sentilnya..

Perhatian Pemerintah terhadap Pencak Silat
Dalam kesempatan yang sama, Aji Amdani juga menyinggung perhatian pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, terhadap dunia pencak silat. Menurutnya, kiprah panjang Prabowo di Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) maupun Persilat telah memberi kontribusi penting bagi perkembangan silat di tanah air maupun di level internasional.
Sejak akhir 1980-an, Prabowo tercatat aktif di kepengurusan IPSI hingga kini, dan pada masa kepemimpinannya berbagai prestasi berhasil diraih, termasuk pencapaian di Asian Games 2018 serta sejumlah gelar juara umum di SEA Games dan Kejuaraan Dunia.
“Terlepas dari dinamika politik, kita perlu mengakui bahwa pencak silat mendapat ruang dan dukungan yang cukup besar dalam dua dekade terakhir. Itu modal penting agar silat tidak hanya dilihat sebagai olahraga prestasi, tetapi juga sebagai warisan budaya dan identitas bangsa,” ujar Aji Amdani.

Silat Sebagai Pilar Pembangunan Sosial dan Nasional
Dengan semangat tersebut, Aji Amdani mengajak semua pemangku kepentingan, termasuk IPSI, KONI, dan institusi olahraga lainnya, untuk melihat pencak silat sebagai instrumen strategis dalam mendukung stabilitas sosial dan pembangunan karakter bangsa.
Ia berharap ada perhatian lebih terhadap pembinaan silat, bukan hanya dalam aspek kompetisi, tetapi juga dalam dimensi pendidikan, pembentukan etika, dan penyadaran nilai-nilai kebangsaan.
“Jika kita serius menanamkan nilai-nilai silat sejak dini, maka kita sedang menyiapkan generasi yang mampu berpikir jernih, bertindak bijak, dan menjauhkan diri dari kekerasan. Tetapi jangan lupa, kekerasan itu bisa lahir bukan hanya dari rakyat yang marah, melainkan juga dari kebijakan yang tidak adil. Di sinilah silat hadir: bukan untuk menambah kekerasan, melainkan untuk menegakkan keadilan,” tutup Aji Amdani. (msd)







