
Wisdoms.id Jakarta- Purworejo kembali mencatat sejarah baru. Pada Kamis, 11 Desember 2025, sebuah program monumental dimulai: Pelatihan Pembuatan Perahu Berbahan FRP (Fiber Reinforced Plastic) bagi masyarakat pesisir Kabupaten Purworejo.
Inisiatif ini bukan hanya sekadar pelatihan teknis, tetapi juga simbol nyata bagaimana diaspora Purworejo di rantau tetap berkontribusi dan terhubung dengan tanah kelahirannya.
Pelatihan yang berlangsung selama seminggu, dari 11 hingga 18 Desember 2025, dipusatkan di Keburuhan, Ngombol. Sejak hari pertama, kegiatan ini langsung mendapatkan dukungan penuh dari tokoh-tokoh penting, salah satunya Ketua Umum Pakuwojo (Perkumpulan Keluarga Besar Purworejo), Rendra K. Wijaya, S.Pt, serta praktisi berpengalaman dari industri perkapalan, Totok dari PT Naval Dipo Services (NDS).
Dalam sambutannya, Rendra atau akrab disapa Luki menegaskan bahwa pelatihan ini adalah hasil kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kecintaan dan komitmen terhadap kemajuan Purworejo.
“Program ini terjadi karena sinergi Pakuwojo, Bapak Totok yang juga warga Purworejo sekaligus alumni SMA 1 Purworejo, teman-teman MG 85, hingga PT NDS. Semua turun tangan demi membuka peluang baru bagi masyarakat kita,” ujar konsultan senior dari CSR Bhakti BCA ini.

Sementara itu, Totok dari PT NDS memberikan gambaran mengenai esensi pelatihan ini. Selain materi teknis tentang cara membuat perahu berbahan FRP, para peserta juga akan dibekali pemahaman mengenai pemasaran, manajemen material, hingga strategi keberlanjutan usaha.
“Kita ingin program ini tidak hanya berhenti pada keahlian teknis, tetapi juga menjadi gerakan ekonomi yang sustainable dan mandiri secara komunal,” jelasnya.
Totok juga membagikan sedikit sejarah berdirinya NDS. Perusahaan ini lahir dari para alumni terbaik Jurusan Perkapalan Universitas Diponegoro, dengan slogan ‘Dari Alumni Kapal Undip untuk Dunia’.
Sebuah tagline yang tercermin dalam komitmen mereka, termasuk penyaluran 25% dari profit perusahaan untuk kegiatan CSR. NDS sendiri memiliki lingkup layanan yang luas seperti General Supplies, Marine Consultants, Equipment Rentals, dan berbagai jasa kelautan lainnya.

Peluncuran program ini berjalan lancar, dan Rendra menutup acara dengan pesan optimistis. Ia menekankan bahwa peluang Purworejo untuk berkembang sangat besar apabila pemerintah daerah mampu menyambut inisiatif-inisiatif diaspora dengan pendekatan jemput bola. “Banyak warga Purworejo yang sukses di perantauan, dan mereka siap kembali untuk berkontribusi. Jika kolaborasi dilakukan secara optimal, niscaya dinamika pembangunan di Purworejo akan bergerak jauh lebih cepat,” tegasnya.
Pelatihan pembuatan kapal FRP ini bukan hanya langkah teknis, tetapi gerak bersama: menghubungkan pengalaman diaspora, keahlian profesional, dan kebutuhan masyarakat lokal. Inisiatif ini menunjukkan bahwa ketika akar dan ranting saling terhubung, sebuah daerah bisa tumbuh lebih kuat, lebih mandiri, dan lebih maju. Purworejo hari ini sedang menuju ke arah itu. (red- )







