Home INTEREST Zulhas dan Seni Mengajarkan Bangsa untuk Tidak Minta-Minta !

Zulhas dan Seni Mengajarkan Bangsa untuk Tidak Minta-Minta !

0

Ada satu hal yang selalu menarik dari Zulkifli Hasan—atau Zulhas, begitu ia lebih akrab disapa publik. Ia adalah salah satu dari sedikit pejabat yang berhasil menggabungkan tiga hal sulit dalam satu paket: jabatan tinggi, agenda padat, dan kemampuan memberi nasihat yang membuat kita mengernyit sambil berpikir, “Ah… masuk akal juga sih.”

Ketika ia mengatakan bahwa rakyat tidak boleh diajari meminta-minta, media sosial mendadak bergemuruh. Seolah-olah baru kali ini Indonesia mendengar pejabat publik meminta rakyat berusaha, bukan menunggu bantuan.

Padahal, jika kita jujur, sebagian dari kita sudah terlalu nyaman dengan budaya “minta bantuan dulu, baru mikir nanti.” Jadi ketika Zulhas muncul dan bilang, “Ayo jangan ngandelin sedekah terus,” kita refleksinya bukan pada pesannya, tapi pada dompet yang mendadak terasa tipis.

Yang tidak banyak disadari publik adalah: pesan itu sebenarnya sangat konsisten dengan hidupnya. Zulhas memang tumbuh dalam budaya Muhammadiyah—organisasi yang terkenal dengan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan… kerja keras. Ini bukan organisasi yang suka drama. Mereka sibuk membangun gedung dan mencetak sarjana.

Maka ketika Zulhas mengatakan rakyat harus kreatif dan produktif, itu bukan petuah kosong. Itu lebih mirip bapak-bapak bijak yang sudah hidup cukup lama untuk tahu bahwa sedekah itu syarat perlu, bukan syarat cukup.

Lagipula, mari kita jujur:
Kalau rakyat terus meminta-minta, siapa yang nanti jadi pengusaha, UMKM champion, atau content creator ekonomi kreatif yang bisa memberi wejangan panjang di TikTok? Tidak mungkin semuanya jadi penerima bantuan, bukan? Bangsa ini butuh banyak yang memancing, bukan hanya menunggu ikan dari pemerintah.

Dan bicara soal memancing, Zulhas rajin sekali “memancing” kebaikan lewat aktivitas sosialnya—mulai dari renovasi sekolah sampai program UMKM. Kadang ia terlihat lebih sering hadir di desa ketimbang WiFi desa itu sendiri.

Keluarganya pun tak kalah menarik. Putrinya mengatakan bahwa ayahnya selalu membagi waktu antara negara dan keluarga. Sebuah kemampuan yang, jika bisa dijadikan mata kuliah, mungkin lulusannya akan langsung diincar HRD seluruh Indonesia.

Sisi paling satir dari semuanya adalah ini:
Ketika publik menuduh pejabat terlalu jauh dari rakyat, Zulhas memilih turun langsung ke kegiatan sosial, bertemu warga, dan ikut acara zikir nasional. Ketika pejabat lain sibuk membuat jargon, ia sibuk membangun program koperasi desa.
Namun ketika ia memberi nasihat sederhana—“jangan minta-minta terus”—internet panik seolah-olah ia meminta rakyat melakukan push-up sambil menanam cabai di rooftop.

Pada akhirnya, satire terbesar dari semua ini adalah kita sendiri. Kita ingin pemimpin yang dekat dengan rakyat, tetapi ketika pemimpin berbicara layaknya orang tua yang menasihati anak, kita merasa tersinggung. Kita ingin pemimpin yang mendorong kemandirian, tetapi kita ingin hidup tetap nyaman tanpa perubahan.

Zulhas hanya mengingatkan bahwa produktivitas bukan musuh rakyat, sedangkan mentalitas meminta-minta tanpa usaha… ya, itu musuh masa depan bangsa.

Dan mungkin, hanya mungkin, itu nasihat yang sebenarnya kita butuhkan—meski disampaikan dengan gaya bapak-bapak yang kadang membuat kita ingin membuka Twitter hanya untuk merespons dengan:
“Pak, pelan-pelan dong ngomongnya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here