Wisdoms.id Jakarta – Senin siang, 18 Agustus 2025, Achmad Ibnu Wibowo yang lebih dikenal sebagai Gus Paox Iben menyempatkan langkahnya ke Galeri Nasional Indonesia (Galnas).
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mudhofar, Kendal, Jawa Tengah dan RTM Lombok NTB, itu awalnya tidak berniat khusus.
“Karena anak saya mau jalan ke mall dengan temannya, saya memilih jalan sendiri. Kebetulan sudah lama tidak menonton pameran di Galnas,” katanya.
Keputusan mendadak itu ternyata berbuah pengalaman istimewa. Galnas sedang menggelar pameran bertajuk Pangeran Diponegoro, sebuah perayaan visual yang merangkum karya-karya maestro seni rupa dari masa ke masa.
Dari Raden Saleh hingga perupa kontemporer, seluruhnya menghadirkan tafsir berbeda tentang sosok pahlawan nasional itu.

Bagi Gus Paox, menyaksikan langsung karya Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro adalah pengalaman yang sulit dilupakan. Lukisan monumental itu, yang sering hanya ia baca lewat buku sejarah, kini terpampang nyata di hadapannya.
“Seperti mimpi saja. Rasanya sejarah benar-benar hidup,” ujarnya.
Di ruang yang sama, terpajang karya para perupa se-era Raden Saleh, dilanjutkan dengan koleksi Persagi yang dipelopori Sudjojono.
Karya Hendra Gunawan dan Nasar juga ikut menyemarakkan pameran. Bahkan, beberapa lukisan Affandi dalam periode realis sebelum ia menempuh gaya ekspresionisme khasnya ikut dipamerkan.
“Dari karya-karya itu kita bisa belajar transisi estetika para maestro,” kata Gus Paox.
Ruang berikutnya menampilkan karya generasi mutakhir. Nama-nama besar seperti Nasirun, Ugo Untoro, dan Jumaldi Alfi menghadirkan tafsir segar tentang Diponegoro.
Gus Paox terperanjat saat menemukan karya instalasi milik temannya di pascasarjana saat study di Yogyakarta, Irine Agrivina, ikut dipamerkan.
“Sumpah keren banget. Bangga sekaligus terharu melihat karya teman bisa berdiri sejajar dengan maestro,” katanya.
Pameran ini, menurutnya, bukan sekadar suguhan seni rupa, melainkan ruang perjumpaan antara sejarah, identitas, dan kebebasan berekspresi.
“Lukisan-lukisan ini adalah jendela. Ia memperlihatkan bagaimana bangsa menafsirkan Diponegoro sesuai zamannya,” ujarnya.
Bagi Gus Paox, momen itu juga menjadi renungan di hari kemerdekaan. Ia melihat seni rupa sebagai bagian dari perjalanan bangsa yang tak pernah selesai.
“Diponegoro bukan hanya tokoh sejarah. Ia simbol perlawanan, dan para perupa menghidupkannya kembali dalam berbagai bahasa visual,” katanya.

Sebagai budayawan dan pengasuh pesantren, Gus Paox menekankan pentingnya membawa generasi muda mendekat pada pengalaman kultural semacam ini. Seni, menurutnya, dapat menjadi kitab terbuka yang menyatukan nilai religius, kebangsaan, dan kreativitas.
“Kalau kita mau belajar, seni bisa menuntun pada kesadaran baru,” katanya.

Hari itu, langkah isengnya ke Galnas berbuah refleksi panjang. Di balik kanvas-kanvas Diponegoro, Gus Paox menemukan cara lain merayakan kemerdekaan: dengan menelusuri ingatan kolektif bangsa melalui seni, sekaligus meneguhkan keyakinan bahwa kebudayaan adalah benteng abadi kemerdekaan.( Jontex)







