Home FEATURED Afifuddin Kalla: “One Last Dance”, Dari Pengabdian Menuju Dampak Nyata untuk HIPMI...

Afifuddin Kalla: “One Last Dance”, Dari Pengabdian Menuju Dampak Nyata untuk HIPMI ( No 3 )

0

Wisdoms.id Jakarta- Di tengah riuh kontestasi Munas XVIII HIPMI, Afifuddin Suhaeli Kalla hadir dengan nada yang berbeda. Tidak meledak-ledak, tidak penuh jargon. Justru tenang, reflektif namun tegas dalam arah.

Ia menyebut langkahnya maju sebagai calon Ketua Umum bukan sekadar ambisi, melainkan sebuah fase yang ia sebut: “one last dance.” Sebuah penutup yang bukan berarti akhir, tetapi puncak dari perjalanan panjang pengabdian.

Kalimat itu sederhana, namun sarat makna.

Afifuddin bukan nama baru di HIPMI. Ia adalah produk dari proses panjang organisasi—18 tahun berproses sejak 2008, naik dari kader, memimpin di tingkat cabang, daerah, hingga pusat.

Perjalanan ini bukan hanya membentuk posisi, tetapi membentuk perspektif.

Ia memahami HIPMI bukan dari luar, tetapi dari dalam. Ia tahu denyut organisasi, memahami kebutuhan anggota, dan menyaksikan langsung bagaimana tantangan pengusaha muda terus berubah dari waktu ke waktu.

Bagi Afifuddin, HIPMI bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang pembentukan, tempat nilai, jaringan, dan kepemimpinan ditempa.

Di luar organisasi, rekam jejaknya di dunia usaha juga tak bisa diabaikan. Ia tumbuh dalam ekosistem bisnis yang kuat, terlibat dalam berbagai perusahaan strategis di sektor energi dan industri di bawah Kalla Group.

Dari posisi staf keuangan hingga memimpin sebagai CEO dan CFO di sejumlah perusahaan, Afifuddin memahami bagaimana bisnis bekerja dari hulu ke hilir.

Pengalaman ini membentuk satu hal penting: orientasi pada eksekusi.

Ia tidak hanya berbicara tentang ide, tetapi tentang bagaimana ide itu diwujudkan.

Dalam visinya, Afifuddin membawa arah yang jelas:

Menjadikan HIPMI sebagai mesin penggerak ekonomi nasional melalui pengusaha muda yang berdaya saing, inovatif, dan berjiwa kebangsaan.

Namun di balik kalimat besar itu, ada kesadaran yang lebih dalam.

Ia melihat Indonesia sedang berada dalam fase penting, pertumbuhan ekonomi ada, tetapi tantangan tetap nyata:

  • Akses permodalan yang belum merata
  • Kesenjangan digital
  • Kompleksitas regulasi

Bagi Afifuddin, di sinilah HIPMI harus naik level.

Bukan lagi sekadar wadah, tetapi menjadi jembatan aktif antara pengusaha muda, pemerintah, dan ekosistem bisnis.

Pendekatannya tidak berhenti pada konsep. Ia menekankan pentingnya tiga nilai utama dalam kepemimpinannya:

Kolaborasi. Konsistensi. Keberlanjutan.

Tiga hal yang mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi fondasi dari organisasi yang kuat.

Kolaborasi memastikan semua bergerak bersama.
Konsistensi menjaga arah tetap terjaga.
Keberlanjutan memastikan dampak tidak berhenti di satu periode.

Bagi Afifuddin, kepemimpinan bukan soal seberapa cepat bergerak, tetapi seberapa jauh dampak itu bisa bertahan.

Yang menarik, Afifuddin tidak menempatkan dirinya sebagai pusat cerita.

Ia berulang kali menegaskan:

“Ini bukan tentang saya. Ini tentang bagaimana HIPMI bisa benar-benar hadir dan berdampak.”

Dalam kalimat itu, tersirat pendekatan kepemimpinan yang lebih kolektif bahwa organisasi harus lebih besar dari figur.

Ia ingin memastikan HIPMI:

  • Lebih relevan bagi anggota
  • Lebih dekat dengan kebutuhan nyata
  • Lebih kuat sebagai mitra strategis pemerintah

Terutama dalam agenda besar nasional seperti hilirisasi industri, kedaulatan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja.

Sebagai figur yang tumbuh dari dalam organisasi, Afifuddin membawa satu keunggulan yang tidak semua kandidat miliki: kedalaman proses.

Ia tidak hanya memahami apa yang harus dilakukan, tetapi juga bagaimana melakukannya—dengan mempertimbangkan dinamika internal organisasi.

Pendekatannya tidak disruptif, tetapi transformatif. Tidak memutus, tetapi melanjutkan dan menguatkan.

Di tengah kompetisi yang penuh strategi dan narasi besar, Afifuddin memilih jalannya sendiri.

Lebih tenang.
Lebih reflektif.
Namun dengan pijakan yang kuat.

“One last dance” yang ia sebut bukan tentang langkah terakhir, tetapi tentang memberikan yang terbaik di momen paling menentukan.

Karena bagi Afifuddin Kalla, kepemimpinan bukan soal posisi.

Tetapi tentang warisan:
Apakah organisasi ini menjadi lebih kuat, lebih berdampak, dan lebih berarti bagi anggotanya?

Dan dari seluruh perjalanan panjangnya, tampaknya ia sedang menyiapkan itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here