Jakarta – Nama Achmad Ibnu Wibowo, atau yang lebih akrab disapa Gus Paox Iben, sudah sering terdengar di ruang-ruang publik.
Di usia 49 tahun, pengasuh Pondok Pesantren Darul Mudhofar, Kendal, Jawa Tengah, ini kerap muncul di panggung yang jarang disentuh para kiai tradisional: pameran seni, diskusi kebudayaan, hingga forum literasi anak muda.
Langkah itu semula dianggap nyeleneh. Sebagian orang heran mengapa seorang ulama begitu akrab dengan dunia seni rupa dan sastra.
Namun bagi Gus Paox, spiritualitas dan seni adalah dua jalan yang tak pernah bisa dipisahkan. “Seni itu cara lain untuk mengenali Tuhan,” katanya suatu sore.

Lahir di lingkungan pesantren, Gus Paox ditempa dengan tradisi keilmuan yang ketat. Kitab kuning menjadi makanan sehari-hari, lantunan ayat Al-Qur’an menjadi irama hidupnya.
Namun di balik kesibukan itu, ia diam-diam jatuh cinta pada dunia rupa. Pensil dan kertas selalu ia sisipkan di antara kitab tafsir, menggambar wajah murid, tokoh pewayangan, hingga pemandangan halaman pondok.
Kecintaan itu makin matang ketika ia berinteraksi dengan para seniman. Ia belajar bukan semata teknik melukis atau menulis, melainkan cara memandang.
Bahwa setiap garis bisa menjadi doa, setiap warna bisa menjadi zikir. Pandangan inilah yang kemudian mewarnai seluruh kiprahnya.
Kini, Gus Paox dikenal bukan hanya sebagai pengasuh pesantren, melainkan juga figur kultural. Ia sering hadir dalam kajian yang menyatukan tafsir agama dengan perenungan estetika.

Di Galeri Nasional Indonesia pada senin 18 Agustus 2025 lalu, ia pernah berdiri lama di depan lukisan Diponegoro. “Ini bukan sekadar pahlawan, tapi keberanian manusia melawan ketidakadilan,” ujarnya lirih.
Pandangan yang lintas batas itu membuat Gus Paox dekat dengan anak muda. Mahasiswa, seniman, hingga pegiat komunitas menjadikannya rujukan.
Mereka datang bukan hanya untuk bertanya soal agama, melainkan juga cara menjaga integritas, menyeimbangkan iman dengan kreativitas, dan menghadapi kegelisahan hidup sehari-hari.
Gaya bicaranya sederhana, kerap diselingi humor. Kadang puitis, kadang lugas. Namun di balik kelembutannya, ia menyimpan sikap kritis.

Ia sering mengingatkan bahwa agama bisa kehilangan ruh bila hanya dipakai sebagai atribut politik. “Tugas kita menjaga agama tetap jadi sumber welas asih, bukan alat kuasa,” tegasnya.
Di pesantrennya, Gus Paox memberi ruang bagi santri untuk menulis, melukis, atau mementaskan teater. Semua ekspresi itu, menurutnya, adalah jalan pengabdian.
“Santri harus berani menafsirkan zaman,” ujarnya. Tak heran bila Darul Mudhofar dijuluki sebagian orang sebagai “laboratorium kebudayaan”.
Meski kerap tampil di panggung nasional, keseharian Gus Paox tetap sederhana. Ia masih setia mengajar ngaji, menemani santri di dapur, hingga bercocok tanam di kebun pesantren.
Baginya, kebesaran seorang kiai tak diukur dari seberapa sering tampil di televisi, melainkan dari kedekatan dengan umatnya.
Sikap itu membuatnya dihormati, baik di kalangan pesantren maupun komunitas seni. Ia mampu menjembatani dua dunia yang sering dianggap berseberangan: spiritualitas dan kreativitas. Di tangan Paox, keduanya justru saling menguatkan.
Di tengah arus zaman yang kian pragmatis, kehadiran Gus Paox menjadi pengingat. Bahwa pesantren bukan hanya benteng moral, tapi juga sumber daya kultural yang menyuburkan kehidupan bangsa. Bahwa iman tak harus kaku, dan seni tak harus sekuler.

“Pesantren itu bukan menara gading,” katanya, “ia harus jadi taman, tempat semua bunga bisa tumbuh.” Sebuah metafora yang sekaligus menjadi arah perjuangannya: menyulam seni dan spiritualitas dalam satu kain kehidupan. ( Red- Ahmad Alwin)







