Bagi angkatan ’98, sudah waktunya mundur tiga langkah. Kalian pernah menulis bab penting dalam sejarah negeri ini.
Tapi setiap zaman punya penulisnya sendiri. Jangan recoki halaman baru dengan romantika masa lalu yang tak lagi relevan.
Generasi hari ini tidak hidup dalam bayang-bayang otoritarianisme seperti dulu.
Mereka menghadapi medan lain: krisis iklim, ekonomi digital, politik identitas, hingga ketimpangan sosial global.
Senjatanya pun berbeda—bukan lagi spanduk dan jalanan, melainkan algoritma, inovasi, dan jejaring lintas batas.
Jika kalian terus maju ke depan, menutup jalan dengan klaim moralitas sejarah, maka generasi baru akan kehilangan ruang untuk tumbuh.
Padahal, tugas angkatan ’98 kini bukan lagi menjadi aktor utama, melainkan penjaga pagar: memastikan demokrasi tidak dicuri, memberi pengalaman ketika diminta, lalu merelakan tongkat estafet berpindah tangan.
Romantisme perjuangan boleh disimpan di lembar buku atau ruang nostalgia.
Tapi jangan dijadikan alasan untuk membungkam kreativitas zaman ini. Setiap generasi punya hak menulis sejarahnya sendiri—dengan caranya, dengan gayanya, dengan keberaniannya.
Maka, mundurlah tiga langkah. Biarkan generasi baru menulis Indonesia versi mereka.
Karena bangsa ini tidak akan maju dengan menoleh ke belakang, melainkan dengan berlari ke depan.







