Home INSPIRATIF Gus Kikin: Ketika Kiai Memimpin 22 Perusahaan: Kisah Gus Kikin yang Menginspirasi...

Gus Kikin: Ketika Kiai Memimpin 22 Perusahaan: Kisah Gus Kikin yang Menginspirasi Indonesia Modern

0

Di tengah dinamika zaman ketika pesantren dituntut semakin adaptif dan dunia usaha semakin membutuhkan sentuhan etika, sosok KH Abdul Hakim Mahfudz, atau akrab disebut Gus Kikin, hadir sebagai figur yang menjembatani keduanya. Ia bukan hanya pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, salah satu pusat keilmuan terbesar di Indonesia, tetapi juga seorang pengusaha dengan jejaring bisnis luas—mulai dari migas, media, transportasi, logistik, hingga teknologi informasi.

Dalam dirinya, nilai-nilai pesantren dan profesionalisme korporasi bersatu menjadi energi yang mendorong perubahan.

Dari BUMN ke BBS Group: Jalan Sunyi Seorang Pengusaha Pesantren

Perjalanan Gus Kikin di dunia bisnis tak dibangun dalam semalam. Pada 1980-an ia memulai karier di Djakarta Lloyd, salah satu BUMN pelayaran tertua di negeri ini. Pengalaman itu menjadi fondasi penting ketika ia membangun BBS Group pada 1997—kini sebuah grup besar dengan sekitar 22 perusahaan di berbagai sektor.

Bisnisnya bukan sekadar mencari keuntungan, tetapi juga membuka ruang kerja dan pemberdayaan. Melalui:

  • PT Energi Mineral Langgeng (EML) yang mengelola blok migas di Madura,
  • Bama Buana Sakti dan Bama Bhakti Samudra di sektor transportasi & logistik,
  • BBS TV Surabaya, media yang sudah hadir sejak 2008,
  • Bama Bali Sejahtera di bidang teknologi informasi,
  • hingga bisnis ekspor komoditas seperti pinang dan minyak atsiri ke Korea Selatan,

Gus Kikin menunjukkan bahwa seorang kiai dapat sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi berbasis etika.

Dipilih Lewat Musyawarah Keluarga: Tanggung Jawab Meneruskan Tebuireng

Namun sebesar apa pun pencapaiannya di dunia bisnis, amanah terbesarnya datang dari Pesantren Tebuireng. Ketika KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) wafat, Gus Kikin menyebutnya sebagai “cobaan bagi keluarga” dan kehilangan besar bagi dunia pendidikan.

Di banyak kesempatan ia mengungkapkan bahwa Gus Sholah telah menyiapkan suksesi sejak jauh-jauh hari. Pada 2016, lebih dari 200 keluarga besar keturunan Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari berkumpul atas undangan Gus Sholah—untuk bermusyawarah menentukan calon penerus. Melalui proses panjang yang melibatkan tim keluarga, nama Gus Kikin akhirnya mengemuka.

“Saya diminta bersiap oleh Gus Sholah. Kami sudah selesai jauh hari, sehingga beliau tidak lagi memikirkan itu,” ujarnya.

Sejak resmi menjadi pengasuh, Gus Kikin memikul amanah besar: menjaga sekaligus mengembangkan warisan Tebuireng yang kini memiliki 15 cabang di seluruh Indonesia, dari Jombang, Jakarta, Cianjur, Banten, Lampung, Riau, hingga Kalimantan Timur dan Maluku.

Sumur Migas Pertama Milik Santri

Salah satu catatan penting dalam karier bisnisnya adalah keberhasilan PT EML mengebor Sumur ENC-01 dan ENC-02 di Sumenep. Pada 2012, saat penajakan sumur pertama, Gus Sholah menyatakan bahwa inilah sumur migas pertama di Indonesia yang dimiliki oleh santri—sebuah simbol kemajuan bahwa pesantren bukan lagi hanya pusat ilmu agama, tetapi juga ilmu teknologi dan manajemen modern.

Pengeboran ENC-02 bahkan menembus kedalaman lebih dari 7.200 kaki dan dinyatakan sebagai penemuan minyak dan gas yang signifikan, dengan estimasi sumber daya hingga 70 juta barel. Prospek ini menunjukkan bahwa kepemimpinan pesantren dapat berdampak luas hingga ke sektor energi nasional.

Warisan Keulamaan dan Kepemimpinan

Gus Kikin bukan hanya pemimpin visioner, tetapi juga penerus nasab keulamaan besar. Dari jalur ibu, ia terhubung langsung dengan KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng. Dari jalur ayah, ia bersambung kepada keluarga besar kiai-kiai Pesantren Paculgowang dan Lirboyo.

Wajar jika kemudian kiprahnya juga tampak di struktur organisasi NU. Setelah Konferwil PWNU Jatim, ia dipercaya sebagai salah satu Wakil Ketua—posisi penting di provinsi dengan basis NU terbesar di Indonesia.

Kiai yang Membangun Masa Depan

Di tengah tantangan modern, Gus Kikin menghadirkan wajah baru kepemimpinan pesantren: religius, profesional, dan berorientasi masa depan. Ia meneruskan kerja-kerja besar Gus Sholah dalam bidang pendidikan, kurikulum, pembangunan cabang pesantren, hingga tata kelola kelembagaan.

“Kami akan melanjutkan semuanya. Banyak hal yang harus kami kerjakan, terutama kebutuhan pendidikan,” ujarnya.

Sosoknya membuktikan bahwa kiai tidak hanya mengajarkan adab dan kitab kuning, tetapi juga mampu memimpin perusahaan, mengelola energi nasional, membangun media, memberdayakan ekonomi lokal, dan menyalakan harapan bagi ribuan santri.

Gus Kikin adalah gambaran generasi baru ulama Indonesia—mereka yang tidak hanya mengabdi kepada umat, tetapi juga siap menjawab tantangan zaman dengan pengetahuan, keberanian, dan kerja nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here